Cari Blog Ini

Selasa, 05 Mei 2009

Presiden Ideal 2009


Presiden Ideal 2009

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Hidayat Nur Wahid (Wahid)

Kekuatan

Pasangan calon ini jika berduet dapat dipastikan akan bisa tampil menjadi Presiden Indonesia 2009-2014. SBY adalah incumbent yang tentu mempunyai kekuatan untuk dapat tampil lagi, sebagai incumbent tentu dapat saja mengambil langkah yang menguntungkan dirinya sebagai calon presiden untuk periode 2009. Sebagai presiden, SBY sudah membuktikan bahwa banyak perubahan yang dibuat untuk bangsa Indonesia, beberapa masalah besar satu persatu mulai diurai untuk dicarikan jalan keluarnya, banyak keputusan yang dibuat telah menghasilkan kemaslahatan umat, kebijakan di bidang politik, hukum, maupun ekonomi.

Di bidang politik kita tahu bagaimana penyelesaian maslah Aceh yang hampir 30 tahun tidak terselesaikan namun berkat kerja Presiden SBY konflik tersebut dapat diselesaikan dengan cara damai, padahal latar belakang SBY yang militer namun penyelesaian dengan cara damai tetap menjadi andalan dan dapat kita saksikan bagaimana Aceh sekarang yang damai. Keberhasilan di bidang hukum dapat kita saksikan bahwa hukum dapat menjerat siapa saja, termasuk pejabat negara yang keadaan tersebut tidak pernak kita temui pada pemerintahan sebelumnya. Dalam bidang ekonomi Presiden SBY berani memutuskan kerjasama dengan IMF yang selama selalu mendikte Indonesia dengan memberikan hutang-hutangnya yang menjerat pada masalalu namun pemerintahan sekarang yang menanggung akibatnya.

Wahid yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang memiliki komitmen yang tidak pernah “plin plan” bahkan dia adalah satu-satunya ketua umum partai yang mengundurkan diri setelah diangkat menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Presiden SBY yang saat ini masih memegang kekuasaan dapat saja mempengaruhi rakyat Indonesia agar memilih dirinya dengan mengeluarkan kebijakan yang berfihak kepada rakyat. Wahid yang saat ini juga masih menjabat sebagai ketua MPR dapat saja meningkatkan citra melalui pernyataan-pernyataan yang populis.

Keduanya memiliki background pendidikan Doktor, dengan pendidikan yang dimilikinya berarti mempunyai kemampuan untuk dapat membawa Indonesia menjadi negara yang maju. SBY yang pernah belajar di Amerika tentu mempunyai jaringan internasional yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pencalonan dirinya sebagai presiden, begitupun dengan Wahid yang pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah juga mempunyai jaringan di negara-negara tersebut, mengingat dia juga adalah seorang intelek yang tidak perlu diragukan lagi kemampuan lobi politiknya, kita masih ingat bagaimana ketika wartawan kita (Meutya Hafidz) disandera tentara Iraq namun berkat lobi dari sang Wahid sandera dilepaskan dengan selamat, ini membuktikan bahwa nama dia cukup diperhitungkan di dunia internasional.

SBY dan Wahid mempunyai basis massa di semua golongan, dari masyarakat kecil sampai dengan kaum intelektual. Kita dapat saksikan bagaimana pesona SBY yang dapat menyihir masyarakat akan kerinduan pemimpin yang diharapkan pada pemilihan presiden tahun 2004 dan pesona itu sampai sekarang masih dapat dipertahankan apabila berpasangan dengan Wahid yang secara personal merupakan pribadi yang jujur dan dapat dipercaya.

Pasangan ini sangat ideal untuk menjadi presiden 2009-2014 mengingat selain kaum intelek mereka juga terkenal sebagai tokoh yang bersih, kita hampir tidak pernah mendengar kasus yang menghubungkan mereka dengan pelaku tindak korupsi apalagi terlibat korupsi secara pribadi. Kebersahajaan dan kesederhaan sang demokrat patut menjadi contoh bagi bangsa Indonesia dan layak rasanya untuk dapat memimpin Indonesia tetapi dengan pendamping yang baru yaitu Hidayat Nur Wahid, seorang yang intelek, jujur dan mempunyai komitmen tinggi terhadap kemajuan bangsa Indonesia.

Kelemahan

Sebagai calon incumbent tentu SBY memiliki kelemahan yang tidak dapat disembuyikan, mengingat sebagai Presiden tentu segala kebijakan yang dikeluarkan selalu menjadi pusat perhatian masyarakat. Apabila kebijakan yang keluarkan tidak populer tentu akan menjadi bahan bagi lawan untuk menyerang dan menyudutkannya dengan membuat opini yang dapat mengurangi pengaruh serta kredibilitasnya. SBY oleh beberapa kalangan yang selalu mengkritisi dengan sebutan sebagai seorang peragu memang dapat membangkitakan citra di mata rakyat kurang baik

SBY yang saat ini masih menjadi presiden didampingi oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla sering kali membuat pernyataan yang membuat citra pemerintah turun dan lagi-lagi nama SBY sebagai taruhannya. Bagimana kita tahu sang wapres yang selalu berbicara seolah tanpa memikirkan resiko yang ditimbulkan sering kali membuat SBY harus menanggung resiko dari pernyataan sang wapres.

SBY-Wahid tidak memeliki dukungan politik dan ekonomi yang cukup kuat, sehingga ini menjadi kelemahan yang harus dapat diatasi oleh berdua. Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera adalah partai yang belum memiliki basis massa yang kuat. Bahkan secara ekonomi mereka bukanlah orang yang berkantong tebal, SBY yang latar belakang seorang tentara tentu tidak memiliki modal uang yang cukup, terlebih lagi Wahid seorang yang aktif di dunia pendidikan dengan kehidupan yang sederhana.

Ada beberapa kebijakan presiden SBY yang terkadang menjadi bumerang, misalnya kebijakan dalam bidang ekonomi dengan menaikan harga BBM tentu membuat citranya menurun, walaupun sebenarnya kebijakan tersebut adalah untuk menyelematkan ekonomi negara namun bukankah tidak semua rakyat mengatahui latar belakang kebijakan tersebut, sehingga dengan mudahnya mereka menyalahkan kebijakan pemerintah.

Wahid yang intelek muslim yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera yang berbasis Islam menjadikan namanya kurang populer di kalangan non muslim. Terlebih citra yang ditampilkan Partai Keadilan Sejahtera yang seolah eksklusif dan hanya untuk kalangan Islam dan opini ini terkadang sengaja dihembuskanoleh pihak-pihak yang anti terhadap komitmen dan kepribadian Wahid. Inilah kelemahan yang dimiliki kedua pasangan.

Peluang

SBY-Wahid walaupun tidak didukung partai politik dan ekonomi yang kuat bukan berarti tidak mempunyai peluang untuk tampil memenangkan pemilihan presiden 2009. peluang adalah kesempatan memberdayakan kelemahan sehingga menjadi kekuatan. Dengan mengandalkan kemampuan yang dimiliki oleh mereka berarti mereka dapat menjadikan potensi yang dimiliki olehmereka menjadi peluang untuk dapat memenangkan pemilihan presiden.

Sebagai orang yang jujur dan mempunyai komitmen, bukan tidak mungkin ini merupakan peluang buat mereka untuk merebut simpati rakyat, karena kondisi saat ini yang sangat susah mencari orang jujur dan mempunyai komitmen. Rakyat tentu sangat menginginkan keduanya untuk dapat berpasangan tampil memimpin negera Indonesia dengan komitmen dan kejujuran yang dimiliki oleh mereka.

Peluang semacam inilah yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh mereka, dengan tetap memelihara komitmen dan kejujuran yang mereka miliki. Meskipun secara ekonomi mereka kurang mampu dan partai pendukungnya juga belum kuat namun dengan kejujuran yang dimiliki rakyat tentu akan mau memilih mereka. Pemilihan Umum 2009 yang diikuti oleh 38 partai politik dan kebanyakan partai kecil yang tidak mempunyai calon untuk menjadi presiden. Hal ini dapat dijadikan peluang buat mereka dengan menggandengnya untuk berkoalisi.

Dengan koalisi yang dibangun berarti massa pendukung partai politik yang tidak mempunyai calon presiden tersebut, massa pendukung mereka dapat dilimpahkan kepada SBY-Hidayat Nur Wahid sehingga suara pasangan ini dapat mengungguli calon pasangan lain.

Isu soal pemimpin muda dapat dianggap peluang oleh pasangan ini, SBY yang pada tahun 2009 genap berusia 60 tahun namun dengan berpasangan dengan Wahid yang masih di bawah 50 tahun membuat peluang keduanya semakin terbuka. Pasangan ini menjadi pasangan alternatif bagi tampilnya tokoh muda yang saat ini mungkin belum ada tokoh yang mampu untuk menjadi presiden sehingga dengan tampilnya Wahid sebagai calon wakil presiden setidaknya sudah dapat mempresentasikan tokoh muda untuk tampil dalam kancah kepemimpinan Indonesia dan dapat manjadikan sebagai tokoh yang layak untuk tahun 2014.

Peluang pasangan ini adalah juga dapat diperoleh dari basis massa yang kebanyakan adalah orang terpelajar dan mempunyai komitmen terhadap kemajuan negara dan bangsa. Tokoh-tokoh muda yang ada di Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera tidak perlu lagi dipertanyakan kredibiltasnya, kita tahu bagaimana anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat ada yang terlibat beberapa kasus korupsi, namun pernahkah kita mendengar ada anggota DPR dari Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera yang terlibat kasus tersebut ? sejauh ini kita belum pernah mendengarnya, sehingga dengan kadernya yang relatif bersih bukan tidak mungkin bahwa kader terpilihnya adalah yang terbaik dari yang baik tersebut.

Sehingga dengan dukungan para kader terbaik tersebut maka bukan tidak mungkin rakyat akan menggantungkan harapannya kembali kepada presiden SBY dengan pendamping yang baru yaitu Wahid yang sederhana, pintar, jujur dan mempunyai komitmen.

Kendala

Di negera ini orang yang mempunyai kejujuran dan komitmen justru terkadang menyulitkan dirinya sendiri. Kita tahu bagaimana banyak orang yang jujur justru tersingkirkan karena adanya campur tangan pihak-pihak yang dirugikan dengan kejujuran tersebut. SBY-Wahid adalah dua tokoh yang mempunyai komitmen dan kejujuran, sehingga apabila keduanya tampil memimpin negara bisa dipastikan negara Indonesia akan menjadi negara yang ditakuti oleh dunia lain.

Pertanyaannya adalah apakah semua elemen bangsa dapat memberikan dukungan kepada mereka? apakah semua elemen bangsa dapat bersama-sama membangun komitmen dan menjadikan kejujuran sebagai panglima dalam perilaku kehidupan mereka ? inilah sebenarnya yang sulit untuk mendapatkan jawabannya, karena begitu banyaknya orang-orang di negeri ini yang diuntungkan dengan praktek-praktek tidak terpuji sehingga banyak yang berlaku tidak jujur, curang dan tidak memiliki komitmen terhadap keberlangsungan bangsa.

Untuk dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden, SBY-Wahid harus dapat mengidentifikasi golongan semacam itu sehingga pada akhirnya tidak terjebak oleh perangkap yang ditebarkan oleh mereka. Inilah kendala terbesar yang harus dihadapi oleh SBY-Wahid. Mereka adalah orang-orang yang telah mapan baik secara ekonomi maupun politik, keberadaan mereka yang sulit diidentifikasi namun pengaruh yang dihembuskan oleh mereka sungguh sangat dasyat, mereka dapat saja membuat membuat keduanya tidak mendapatkan peluang untuk menang pada pemilihan presiden dan wakil presiden.

Belum lagi kendala yang harus dihadapi dari luar, kita tahu bagaimana reaksi para kaumkapitalis setelah SBY memutuskan hubungan dengan IMF tentu dengan segala cara kaum kapitalis akan berusaha mencari calon pemimpin Indonesia yang dapat diajak bekerjasama. Begitupun dengan Wahid yang Islam intelek yang oleh dunia barat menganggap bahwa Islam penuh dengan kekerasan, teroris, dan berbagai stigma negatif lainnya membuat keduanya harus dapat mengatisipasinya.

Kendala-kendala tersebut baik yang internal maupun eksternal akan dapat diatasi oleh SBY-Wahid. Dengan latar belakang pendidikan, komitmen dan kejujuran bukan tidak mungkin kendala yang ada justu menjadi peluang. Apabila kita ditinggalkan oleh kaum kapitalis (IMF) dan kroninya, Wahid yang pernah bersekolah di Timur Tengah dapat mendatangkan investor dari sana karena memilikijaringan yang luas juga untuk kawasan Timur Tengah. Begitu pula SBY dengan Doktor pertaniannya tentu dapat diandalkan untuk menjadikan Indonesia kembali menjadi negara yang berswasenbada pangan.Hal seperti inilah yang harus dapat disampaikan kepada rakyat, jadi rakyat bisa mengerti mana pemimpin yang mempunyai komitmen dan mana pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongannya, dengan mengorbankan kepentingan rakyat dan kepentingan negara.

Inilah Presiden ideal 2009-2014 presiden yang dekat dengan rakyat, jujur, penuh komitmen, tidak mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan dan hanya kepentingan bangsa dan negara yang menjadi tujuan, dapat berdiri di atas semua golongan termasuk mereka yang tidak mendukungnya.

Tidak ada komentar: